A. PEMBERIAN TANDA (NOMOR IDENTIFIKASI)
Tujuan : agar peternakan dapat mengetahui dengan mudah ternak-ternak yang dimiliki sehingga memudahkan dalam mengawasi. Pemberian tanda ini kemudian dicatat dalam Kartu Catatan Produksi.
Perlakukan :
a. Bila jumlah ternak yang dimiliki sedikit, dapat langsung diberi nama sesuai dengan warnanya.
b. Bila jumlah ternak banyak, pemberian tanda dapat dilakukan dengan alat-alat atau cap dengan mentato telinga ternak atau membuat nomor di atas kayu atau seng/ aluminium kemudian digantungkan pada leher ternak. Pemberian tanda ini sebaiknya menggunakan nomor yang dapat menunjukkan tahun kelahiran, urutan kelahiran, dan sebagainya.
B. PEMOTONGAN KUKU
Tujuan : untuk menjaga kesehatan ternak dengan menghindari atau mencegah kemungkinan terjadinya peradangan akibat dari kotoran yang melekat pada celah-celah kuku. Pemotongang kuku terutama diperuntukkan pada ternak yang terus menerus dipelihara di dalam kandang.
Perlakukan :
a. Pemeriksaan dan pemotongan kuku dilaksanakan setiap 6 bulan sekali.
b. Sebelum pemotongan kuku sebaiknya ternak dibiarkan di tempat yang agak basah agar kuku menjadi lunak.
c. Sangat penting untuk mengetahui susunan anatomi kaki (kuku) secara lengkap dan detail.
d. Jangan terlalu banyak kuku yang dipotong.
e. Hindari terjadinya perdarahan.
f. Bersihkan bagian kuku yang kotor.
g. Peralatan yang diperlukan :
- Pahat untuk meratakan/membentuk kuku.
- Palu untuk memukul pahat.
- Tang pemotong kuku.
- Alat kikir untuk menghaluskan tepi kuku.
- Pisau pemotong kuku untuk membersihkan celah-celah kuku.
- Alat untuk membersihkan kuku bagian bawah.
- Balok kayu untuk ganjal memotong kuku.
h. Untuk mencegah terlalu banyak bergerak dan menjaga keamanan, ternak yang akan dipotong kukunya perlu dijepit di bagian lehernya.
i. Kaki yang akan dipotong kukunya diangkat dan digantung dengan tali.
j. Pemotongan kuku dimulai dari pinggir atas terus ke ujung.
k. Pemotongan dengan pahat, sebaiknya ternak berdiri di atas balok kayu agar pahat tidak menjadi tumpul karena kerasnya lantai.
C. PEMOTONGAN TANDUK
Tujuan : menghilangkan bahaya kecelakaan pada pemeliharaan dan juga ternak lain, serta untuk memudahkan penanganan ternak dalam pemeliharaan.
Perlakuan : pemotongan tanduk dapat dilakukan dengan beberapa cara, tetapi yang akan dipaparkan adalah pemotongan tanduk pada anak sapi (ternak lain yang berumur 2 – 5 hari) dengan zat kimia.
a. Pemotongan tanduk dilakukan pada ternak berumur 2 – 5 hari karena tanduk belum melekat pada tulang kepala.
b. Sebelumnya dilakukan pemotongan rambut di sekeliling tunas tanduk.
c. Pada bekas guntingan diberi vaselin agar zat kimia (soda kaustik) yang dioleskan pada tunas tanduk tidak menyebar ke tempat lain.
d. Soda kaustik dioleskan pada tunas tanduk dengan spatula kayu, karena dengan menggunakan jari dapat terbakar.
e. Soda kaustik akan membakar tunas tanduk dan dalam beberapa hari akan terjadi kerak tanduk. Sepuluh hari kemudian, kerak tanduk tersebut akan terlepas.
D. PEMOTONGAN PARUH
Tujuan : untuk mencegah akibat yang merugikan, terutama bila timbul kanibalisme. Kanibalisme adalah tingkah laku ayam untuk mematuki temannya yang biasanya jika luka akan dikeroyok sampai parah dan dapat menimbulkan kematian. Kanibalisme biasa timbul jika ada kesalahan pengelolaan, seperti kurangnya tempat makan/minum, tempat terlalu sempit, ventilasi jelek, atau bawaan (ayam kampung).
Perlakuan :
Pemotongan paruh hanya dapat dilakukan dengan alat (debeaker/ pemotong paruh) atau alat “hot blade machine” (mesin pisau panas). Pemotongan dengan alat lain biasanya tidak dapat menjamin hasilnya dan sering mengakibatkan perdarahan atau tumbuh kembali yang akan mengakibatkan rasa sakit pada ayam yang bersangkutan. Paruh yang dipotong adalah bagian atas sebanyak 2/3 bagian diukur dari lubang hidung hingga ujung paruh. Paruh bagian bawah dipotong lebih sedikit, sehingga yang tinggal 2 mm lebih panjang dari bagian atas. Bagian yang dipotong digesekkan pada pisau yang dipanaskan dengan arus listrik sehingga lukanya segera tertutup.
E. KASTRASI (PENGEBIRIAN)
Tujuan : untuk menghindarkan adanya keturunan dengan kualitas yang tidak dikehendaki/jelek, memperbaiki kualitas daging, dan dapat membuat ternak lebih jinak.
Perlakuan :
a. Cara Tertutup
Pengebirian yang dilakukan dengan cara mematikan atau meng-halangi keluarnya spermatozoa atau ovum. Cara tertutup ini dapat dilakukan melalui cara mekanis atau dengan memberikan zat kimia (hormon) tertentu.
b. Cara Terbuka
Pengebirian yang dilakukan dengan cara operasi, dengan mengeluarkan testes atau ovarium atau dengan memotong atau mengikat salurannya.
F. PENANGANAN KELAHIRAN TERNAK
Tujuan : untuk mempersiapkan kelahiran, pemberian bantuan kelahiran, dan perawatan kesehatannya.
Perlakuan :
a. Persiapan Kelahiran
- Bersihkan kandang.
- Sediakan alas yang kering dan bersih untuk menyerap cairan yang keluar selama kelahiran.
- Persiapkan jodium tinctur untuk dioleskan pada bekas potongan tali pusat.
b. Pemberian Bantuan Kelahiran
Pemberian bantuan terutama ditujukan pada ternak yang mengalami kesulitan melahirkan. Pada proses kelahiran normal tindakan bantuan yang diperlukan sangat kecil (memotong tali pusat, mengolesi bekas potongan dengan jodium, dan membersihkan lendir).
Kesulitan kelahiran dapat terjadi apabila :
- anak terletak pada posisi yang tidak normal.
- induk mempunyai panggul yang sempit.
- anak yang dikandung terlalu besar.
- anak mati sebelum dilahirkan.
- kondisi induk tidak sehat (lemah).
Kesulitan melahirkan ditandai dengan tidak keluarnya anak selama ± 1 jam setelah kantong ketuban pecah. Oleh karena itu pada induk yang bunting tua perlu perawatan yang lebih baik dengan memberikan pakan yang cukup, cukup gerak, dan ketenangan suasana.
Langkah-langkah untuk membantu kelahiran :
- Bersihkan alat kelamin dan sekitarnya dengan sabun.
- Cucilah tangan dan balur dengan sabuk yang lunak.
- Secara pelan masukkan tangan dengan posisi menguncup ke dalam alat kelamin.
- Rasakan dan pastikan bagian-bagian tubuh anak dalam saluran peranakan, seperti kaki, kepala, dan bagian lainnya berasal dari satu atau dua anak.
- Untuk kelahiran dengan posisi depan, harus teraba kaki dan kepala. Bila salah satu kakinya belum ditemukan, masukkan tangan lebih dalam untuk mencapai kaki satunya. Tariklah dengan hati-hati ke posisi yang benar dan tarik dengan lembut untuk mengeluarkan anaknya.
- Untuk kelahiran dengan posisi belakang, kedua kaki belakang harus sejajar. Untuk meyakinkan bahwa kaki tersebut adalah kaki belakang, maka posisi jari kaki mengarah ke bawah dan punggung mengarah ke atas. Bila jari kaki mengarah ke atas, maka kaki tersebut adalah kaki depan.
- Apabila sebagian tubuh anak tidak terletak pada posisi yang normal, maka betulkan ke posisi yang benar, kemudian tarik dengan lembut untuk menge-luarkan anaknya.
- Untuk membantu pernafasan, maka bersihkan lendir yang terdapat di dalam hidung dengan cara menggelitik bagian dalam hidung dengan jerami atau pegang kaki belakang kemudian ayunkan dengan hati-hati.
- Biarkan induk menjilati anaknya hingga kering.
c. Perawatan Anak yang Baru Lahir
Setelah anak lahir, maka akan segera menyusu kepada induknya. Apabila terjadi kesulitan maka perlu dibantu untuk segera menyusu. Anak yang tidak menyusu setelah 12 jam karena induknya mati, harus diberi susu jolong buatan pada hari ke-1 dan ke-2, sebagai pengganti susu jolong induk.
Pembuatan susu jolong buatan :
Campurkan secara merata 0,25 – 0,50 liter susu sapi atau susu bubuk dengan satu sendok teh minyak ikan, 1 butir telur ayam, dan ½ sendok makan gula pasir. Berikan secara langsung (dicekok) 3 – 4 kali/hari. Apabila selama 2 hari anak tidak berak, berikan secara langsung 1 sendok teh minyak jarak.
G. PEMERIKSAAN KEBUNTINGAN
Tujuan : untuk melakukan perawatan yang benar dan secara langsung maupun tidak langsung akan berhubungan dengan perencanaan produksi atau reproduksinya.
Perlakuan :
Sebelum dilakukan pemeriksaan kebuntingan, terlebih dahulu dapat diamati tanda-tanda kebuntingan, yaitu :
- Tidak terlihat tanda-tanda birahi pada siklus birahi berikutnya.
- Membesarnya perut sebelah kanan.
- Ambing atau buah susu menurun.
- Sering menggesekkan badan ke dinding kandang.
- Tampak lebih tenang.
Pemeriksaan kebuntingan secara dini dapat dilakukan 12 – 24 hari setelah inseminasi/perkawinan dengan memeriksa kandungan hormon progesteron dalam air kencing. Pemeriksaan kebuntingan secara manual dapat dilakukan pada umur 40 – 60 hari setelah inseminasi/perkawinan dengan palpasi rektal atau menggunakan alat pemeriksaan kebuntingan.
Pemeriksaan kebuntingan dengan palpasi rektal :
a. Lakukan tindakan pengamanan dengan mengikat sapi yang akan diperiksa.
b. Kuku pemeriksa harus dipotong pendek. Tangan dilicinkan dengan sabun (jangan memakai sabun cuci).
c. Ekor dan vulva diperiksa terhadap lendir (tanda birahi) atau nanah (tanda infeksi), bila tidak ada kedua tanda tersebut, pekerjaan dapat dilanjutkan.
d. Masukkan tangan ke dalam dubur secara perlahan dan dicari :
1) Leher rahim, dengan tanda-tanda :
- berbentuk silinder.
- sedikit keras.
- biasanya berada di tengah-tengah.
- di dalam ruang panggul, kalau tidak bunting atau bunting muda.
- leher rahim tertarik ke depan, kalau bunting tua.
2) Rahim, tangan masukkan ke depan leher rahim.
3) Tanda-tanda kebuntingan untuk sapi bunting 70 hari :
- tanduk rahim 2 kali lebih besar dari biasanya.
- rahim lembek.
- tanduk rahim penuh dengan cairan.
- dua membran janin dapat teraba.
4) Tanda-tanda kebuntingan untuk sapi bunting 90 hari :
- rahim berada di depan dekat panggul, tetapi ada kemungkinan tertarik kembali ke dalam panggul.
- ukuran rahim sama dengan ukuran bola sepak.
- rahim penuh dengan cairan.
- pembuluh darah rahim sedikit lebih besar di bagian yang bunting.
5) Tanda-tanda kebuntingan untuk sapi bunting 120 hari :
- posisi rahim sudah mulai turun ke dasar rongga perut. Biasanya seluruh rahim masih teraba, tapi tidak mungkin tertarik kembali de dalam ruang panggul.
- rahim penuh dengan cairan.
- cotyledous teraba.
- pembuluh darah rahim lebih besar di bagian yang bunting dan terdapat pulsus “fremitus”.
6) Tanda-tanda kebuntingan untuk sapi bunting 180 hari :
- rahim berada di perut, leher rahim tertarik ke depan.
- Cotyledous teraba.
- pembuluh darah lebih besar di bagian yang bunting dan terdapat pulsus “fremitus”.
7) Tanda-tanda kebuntingan untuk sapi bunting 240 hari :
- rahim berada di perut, leher rahim tertarik ke depan.
- janin dapat diraba, bagian rahim di dalam panggul.
- Cotyledous teraba.
Tandak-tanda sapi tidak bunting :
- tidak ada cairan di dalam rahim.
- dinding kedua tanduk rahim tebal dan teraba seperti daging.
- kedua tanduk rahim melengkung dan simetris.
9) Kesalahan pada pemeriksaan kebuntingan sapi :
- Satu tanda kebuntingan tidak dapat dipergunakan sebagai diagnosa kebuntingan.
- Kandung kencing dapat dikira sebagai rahim yang bunting. Kandung kencing tidak melekat pada leher rahim dan tidak mempunyai tanduk.
- Rumen dapat dikira sebagai rahim yang bunting. Rumen tidak melekat pada leher rahim, rumen tidak penuh dengan cairan, bila ditekan dinding rumen lambat untuk kembali ke posisi semula.
- Rahim yang terinfeksi atau belum mengecil setelah beranak dapat dikira rahim yang bunting dan rahim tidak penuh dengan cairan.
H. PEMERAHAN SUSU
Tujuan : untuk memperoleh air susu secara rutin dengan jumlah dan mutu yang baik dengan tetap memperhatikan kesehatan induk dan anaknya.
Perlakuan :
Air susu dihasilkan oleh ternak yang telah melahirkan anak, tetapi air susu yang dihasilkan oleh induk pada hari-hari pertama sejak melahirkan (10 – 15 harus) harus diberikan kepada anaknya, karena air susu (jolong/kolustrum) tersebut mengandung zat-zat yang sangat diperlukan untuk kesehatan anak yang dilahirkan. Pemerahan hendaknya memperhatikan siklus reproduksi. Terhadap ternak yang telah bunting tua (di atas 7 bulan) diperlukan perhatian khusus untuk menjaga kesehatan induk dan anak yang dikandung. Perhatian utama adalah terhadap jumlah dan mutu pakan.
a. Sebelum diperah deiberikan makanan konsentrat, agar tenang waktu diperah. Jangan diberikan rumput atau hijauan lainnya sebelum dan selama diperah agar susu yang dihasilkan tidak berbau, bersih, dan berkualitas baik.
b. Kandang harus bersih dari kotoran dan sisa-sisa makanan.
c. Ternak yang akan diperah dibersihkan dan dicuci di bagian lipatan paha dan sekitar paha dengan sikat.
d. Siapkan peralatan pemerahan (ember susu) yang telah dibersihkan dengan air sabun yang hangat-hangat kuku dan dibilas dengan air bersih serta dikeringkan (jangan mengeringkan dengan lap atau serbet).
e. Ikatlah ekor pada salah satu kaki belakang agar tidak mengganggu pemerahan.
f. Cucilah ambing dengan air panas (50 – 60 °C) dengan meng-gunakan lap yang bersih kemudian keringkan dengan handuk kering dan bersih. Pencucian ambing akan lebih baik bila dicampur dengan chlor 150 – 200 mg/liter air.
g. Tangan pemerah harus bersih (cuci dengan sabun) sewaktu memerah sebaiknya tidak perlu menggunakan vaselin atau minyak pelicin, karena akan mencampuri susu sehingga mudah rusak.
h. Lakukan uji mastitis dengan menggunakan piring aluminium yang bagian dalam-nya dicat hitam.
- Lakukan test pada setiap puting susu dengan menggunakan 3 jari (ibu jari, telunjuk, dan jari tengah). Pada setiap puting 2 – 3 pancaran ke dalam piring aluminium tersebut. Amati keadaan susu, misalnya ada kelainan (ada darah atau nanah) hal ini menunjukkan adanya kelainan atau peradangan.
- Bila terdapat tanda-tanda kelainan susu pada salah satu puting, maka pemerahannya dipisahkan dengan puting-puting yang sehat. Susu yang abnormal tersebut apabila kualitasnya tidak terlalu jelek dapat dimasak dan diberikan kepada anak ternak yang diperah.
Pemerahan :
a. Tekan ibu jari dan telunjuk melingkari pangkal puting sehingga susu tidak kembali ke ambing.
b. Tekan jari tengah pada puting untuk memancarkan susu keluar (pancaran pertama sebaiknya ditampung dalam piring aluminium hitam untuk test mastitis).
c. Tekan jari manis pada puting dan perah dengan tekanan tetap jangan ditarik kuat ke bawah.
d. Akhirnya tekan jari kelingking pada puting dan perahlah dengan seluruh jari tangan hingga susu keluar semua.
e. Kemudian lepaskan tekanan tangan dari puting dengan membuka semua jari sehingga puting susu terisi kembali. Ulangi cara pemerahan ini dengan meng-gunakan tangan yang lain. Lanjutkan proses pemerahan tersebut beralih ke puting yang lain bila susu yang keluar sudah sangat sedikit.
f. Tekan ambing ke atas dengan menggunakan tangan yang menggenggam puting, usahakan agar susu tidak kembali masuk ke dalam ambing.
g. Agar sisa-sisa susu keluar, maka perah/tekan puting dengan ibu jari dan telunjuk.
h. Lakukanlah pemerahan dengan hati-hati jangan terlalu ditarik.
i. Susu hasil pemerahan harus segera dibawa keluar dari kandang agar tidak menyerap bau kotoran atau kandang.
I. DIPPING
Tujuan : untuk mencegah atau mengurangi ektoparasit pada tubuh ternak dengan cara memandikan ke dalam bak air yang telah diberi obat.
Perlakuan :
Sediakan kolam atau bak besar, dimana pada kolam tersebut telah diisi air dengan kedalaman tertentu (disesuaikan dengan tinggi ternak) dan dilarutkan obat dengan konsentrasi 0,06%. Obat yang akan digunakan disesuikan dengan keperluannya, misalnya : asuntol, diazinon, atau neocidal. Cara yang biasa dipakai adalah dengan memaksa ternak untuk melewatinya atau menceburkan ke dalam bak tersebut.