MY GIANT BOOKS

Waja Sampai Kaputing — Gawi Kita Balum Tuntung

Hati-Hati dengan Pujian

Ditulis oleh ardhiansyahberau di/pada Juli 9, 2008

HATI-HATI DENGAN PUJIAN

Orang yang diajak musyawarah (dimintai pendapat)
adalah yang bisa memegang amanat (dapat menyimpan rahasia)
” (HR.
Athabrani)

Maha Sayang Allah yang telah menganugerahkan
hidayah pada hati-hati yang tunduk. Ruang hati pun terpenuhi cahaya iman.
Kilauannya bisa meleburkan kesombongan, kekikiran, dan kebencian. dari
hati inilah, rahasia hamba-hamba Allah terjaga dan terawat.

Kelengahan Terjadi Ketika Orang Banyak Bicara

Tak ada yang salah dari orang yang banyak bicara.
Selama yang dibicarakan berisi nasihat, dakwah, pengajaran; bicara justru jadi
ibadah. Tapi ketika bicara tak lagi punya isi : canda, obrolan, dan
lain-lain; bicara bisa menimbulkan fitnah. Dan salah satu fitnah itu,
terungkapnya rahasia. Bisa rahasia pribadi, keluarga, bahkan organisasi.

Rasulullah SAW pernah memberikan nasihat agar
seorang mukmin senantiasa bicara yang baik-baik. Atau jika tidak, diam.
Inilah sebuah pelajaran bahwa lidah bisa memunculkan kesalahan fatal.
Ketika orang tidak lagi mampu mengendalikan syahwat bicaranya, berbagai
kesalahan termasuk terungkapnya rahasia bisa muncul begitu saja. Ringan
dan tanpa beban.

Ketika orang tidak lagi sungkan bicara yang remeh
temeh, gosip; maka aib bisa terbaca pendengaran dengan mudah. Bisa aib
diri sendiri, isteri, orang tua, tetangga, dan lain-lain.

Biasanya, orang yang terlalu banyak bicara rentan
keceplosan. Begitu rentan membeberkan sebuah rahasia dan aib yang tabu
untuk diungkapkan. Dengan kata lain, banyak bicara nyaris bisa sama dengan
kurang amanah. Rasulullah SAW pernah memberi nasihat, “Barang siapa banyak
bicara maka banyak pula salahnya dan barang siapa banyak salah maka banyak pula
dosanya. Siapa yang banyak dosanya maka api neraka lebih utama baginya”.
(HR Athabrani).

Kelengahan Terjadi Ketika Orang Haus Pujian

Pujian dalam takaran tertentu memang punya
pengaruh baik. Dalam manajemen, ada istilah punish and reward : hukuman
dan penghargaan. Sebuah kesalahan akan cepat terkikis jika ada hukumannya.
Dan sebaliknya, sebuah prestasi akan terus meningkat jika ada penghargaan.
Dan penghargaan inilah sebagai bentuk lain dari pujian.

Masalah akan muncul jika pujian bukan lagi sebagai
sarana. Tetapi, tujuan. Pujian jenis ini bisa dibilang sebagai
penyakit. Apa pun bisa dikorbankan asal bisa dapat pujian. Biasanya,
orang yang rawan terhinggap penyakit ini mereka yang tergolong orang ‘besar’,
jenius, kaya, pejabat, dan sebagainya. Rasulullah mengatakan, “Berhati-hatilah
dengan pujian. Sesungguhnya itu adalah penyembelihan”. (HR. Al
Bukhari)

Orang yang Cinta Pujian Selalu Ingin Terlihat
Tampil Lebih

Termasuk saat menyampaikan gagasan, usulan, dan
sejenisnya. Karenaa terdorong ingin terlihat lebih, tidak heran jika
sesuatu yang sebenarnya tergolong rahasia bisa keluar begitu saja. Tanpa
beban. Di satu sisi, orang memang akan menilainya lebih. Dan pujian
pun mengalir. Tapi, ada kelemahan yang mudah terbaca : “Berikan saja
pujian, dia akan memberikan apa pun yang Anda minta”.

Salah satu yang membuat takluk Abu Sufyan saat
pengepungan Mekah adalah isi pengumuman Rasul. “Siapa yang masuk Masjidil
Haram, ia aman. Dan siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, ia juga aman”.
Dan itu salah satu bentuk pujian. Sedemikian dasyatnya pengaruh pujian,
Rasulullah SAW pernah mengatakan, “Taburkanlah pasir ke wajah orang-orang yang
suka memuji dan menyanjung-nyanjung”. (HR Muslim)

Kelengahan Terjadi Ketika Orang Dangkal
Pemahaman

Semakin paham seseorang, kian sangat berhati-hati
dalam melangkah. Sebaliknya, kian dangkal pemahaman seseorang, semakin
sembrono mengambil pilihan. Inilah standar penilaian yang bisa diambil.
Karena itu, jangan pernah titipkan rahasia ke orang yang dangkal pemahaman.
Karena rahasia akan sangat gampang bocor dan menyebar. Bahkan mungkin,
karena dangkalnya pemahaman, si pembocor sendiri tidak menyadari ketika ia
sedang melakukan pembocoran.

Sebuah ucapan Rasulullah SAW tentang orang bodoh
yang mengumbar aib sendiri mungkin patut disimak. Beliau SAW mengatakan, “Semua
umatku diampuni kecuali yang berbuat (keji) terang-terangan. Yaitu yang
melakukannya pada malam hari lalu ditutup-tutupi oleh Allah, tetapi esok paginya
dia membeberkan sendiri dengan berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku berbuat
begini … begini …’. Dia membuka tabir yang telah disekat oleh Allah
Azza wajalla”
. (HR Mutafaq ‘alaih)

Kelengahan Terjadi Ketika Lingkungan Kurang
Menghargai Nilai Kebaikan

Ini mungkin agak lain. Karena terungkapnya
sebuah aib atau rahasia bukan sekedar dari dalam diri. Tapi, dari
lingkungan. Orang yang amanah dalam rahasia kadang bisa larut dengan
lingkungan yang menganggap sudah tidak punya rahasia. Mereka begitu mudah
membuka rahasia orang lain.

Bahkan dalam dunia politik, membongkah rahasia
orang lain bisa dianggap prestasi. Karena di situlah lawan bisa terjungkal.
Padahal, orang lain pun sedang menunggu kesempatan. Suatu saat, rahasia
bisa dibuka secara bersama-sama. Kalau saya jatuh, dia pun harus
terjungkal. Rasulullah SAW menasihati untuk tidak seperti itu.
Beliau SAW bersabda, “Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah. Jika
seorang membongkar keburukan yang diketahuinya pada dirimu janganlah kamu
membongkar keburukan yang kamu ketahui pada dirinya
“. (HR Ahmad dan
Attirmidzi).

Memuji orang lain terkadang mudah dilakukan dengan
tanpa melihat dan menelaah terlebih dahulu apa yang diucapkannya. Sudahkah
kita meyakinkan diri kita untuk menerima kebenaran pujian itu.

Wallahu a’lam bish shawab ***

Sumber :

Buletin Jum’at AL – BINA, 01 Rajab 1429 H

Ditulis dalam ARTIKEL ISLAM | Leave a Comment »

Soal Rancangan Percobaan

Ditulis oleh ardhiansyahberau di/pada Juli 6, 2008

1.  Suatu percobaan dilakukan untuk mengetahui pengaruh penyemprotan ekstrak pupuk kandang ayam terhadap produksi padi sawah memberikan data sebagai berikut :

Esktrak Pupuk Kandang

Kelompok

Jumlah

Rerata

I

II

III

E0

E1

E2

E3

E4

E5

0,120

0,460

1,250

1,700

2,880

3,160

0,090

0,360

1,340

1,750

2,900

3,200

0,150

0,540

1,430

1,900

3,170

3,320

0,360

1,360

4,020

5,350

8,950

9,680

0,120

0,450

1,340

1,780

2,940

3,230

Jumlah

9,570

9,640

10,510

29,720

1,650

Pertanyaan :

a.  Rancangan apakah yang dipergunakan untuk percobaan tersebut ?

b.  Berdasarkan data hasil percobaan tersebut, lanjutkan analisis sidik ragam berikut :

Sumber Keragaman

db

JK

KT

Fhitung

Ftabel

5%

1%

Kelompok

Perlakuan

Galat

……

……

……

0,091

24,451

……

……

……

……

……

……

4,10

3,33

7,56

5,64

Total

……

24,574

 

 

 

 

c. Uji lanjut apakah yang sesuai ?  Sebutkan alasan saudara !

2.  Suatu percobaan dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian zeolit terhadap produksi blewah memberikan data sebagai berikut : 

Takaran Zeolit

Kelompok

Jumlah

Rerata

I

II

III

III

Z0

Z1

Z2

Z3

Z4

0,120

0,460

1,250

2,850

3,020

0,090

0,360

1,430

2,750

2,900

0,150

0,540

1,340

2,950

3,000

0,140

0,740

1,470

2,620

2,840

0,500

2,100

5,490

11,170

11,760

0,125

0,525

1,372

2,792

2,940

Jumlah

7,700

7,530

9,640

7,810

31,020

1,551

Pertanyaan :

a.  Rancangan apakah yang dipergunakan untuk percobaan tersebut ?

b.  Berdasarkan data hasil percobaan tersebut, lanjutkan analisis sidik ragam berikut :

Sumber Keragaman

db

JK

KT

Fhitung

Ftabel

5%

1%

Kelompok

Perlakuan

Galat

……

……

……

0,012

26,355

……

……

……

……

……

……

3,49

3,26

5,95

5,41

Total

……

26,545

 

 

 

 

c. Uji lanjut apakah yang sesuai ?  Sebutkan alasan saudara !

3.  Suatu penelitian untuk menyusun skripsi dengan menggunakan dua faktor, yaitu : Faktor A = pupuk kandang dan Faktor B = varietas kedelai.  Analisis data hasil penelitian menggunakan rancangan petak terbagi.

Pertanyaan : tentukan faktor manakah yang akan menjadi petak utama dan anak petak? Sebutkan alasan saudara !

4.  Sebutkan prosedur pengacakan dari suatu percobaan faktorial dengan rancangan dasar adalah rancangan acak kelompok !

5.  Sebutkan prosedur pengacakan dari suatu percobaan rancangan petak terbagi dengan rancangan dasar adalah rancangan acak kelompok !

Ditulis dalam STIPER Berau | yang berkaitan: | Leave a Comment »

TATA LAKSANA PEMELIHARAAN TERNAK

Ditulis oleh ardhiansyahberau di/pada Juli 6, 2008

A.  PEMBERIAN TANDA (NOMOR IDENTIFIKASI)

Tujuan :  agar peternakan dapat mengetahui dengan mudah ternak-ternak yang dimiliki sehingga memudahkan dalam mengawasi.  Pemberian tanda ini kemudian dicatat dalam Kartu Catatan Produksi.

Perlakukan :

a.     Bila jumlah ternak yang dimiliki sedikit, dapat langsung diberi nama sesuai dengan warnanya.

b.    Bila jumlah ternak banyak, pemberian tanda dapat dilakukan dengan alat-alat atau cap dengan mentato telinga ternak atau membuat nomor di atas kayu atau seng/ aluminium kemudian digantungkan pada leher ternak.  Pemberian tanda ini sebaiknya menggunakan nomor yang dapat menunjukkan tahun kelahiran, urutan kelahiran, dan sebagainya.

B.  PEMOTONGAN KUKU

Tujuan :  untuk menjaga kesehatan ternak dengan menghindari atau mencegah kemungkinan terjadinya peradangan akibat dari kotoran yang melekat pada celah-celah kuku.  Pemotongang kuku terutama diperuntukkan pada ternak yang terus menerus dipelihara di dalam kandang.

Perlakukan :

a.     Pemeriksaan dan pemotongan kuku dilaksanakan setiap 6 bulan sekali.

b.    Sebelum pemotongan kuku sebaiknya ternak dibiarkan di tempat yang agak basah agar kuku menjadi lunak.

c.     Sangat penting untuk mengetahui susunan anatomi kaki (kuku) secara lengkap dan detail.

d.    Jangan terlalu banyak kuku yang dipotong.

e.    Hindari terjadinya perdarahan.

f.      Bersihkan bagian kuku yang kotor.

g.    Peralatan yang diperlukan :

-      Pahat untuk meratakan/membentuk kuku.

-      Palu untuk memukul pahat.

-      Tang pemotong kuku.

-      Alat kikir untuk menghaluskan tepi kuku.

-      Pisau pemotong kuku untuk membersihkan celah-celah kuku.

-      Alat untuk membersihkan kuku bagian bawah.

-      Balok kayu untuk ganjal memotong kuku.

h.    Untuk mencegah terlalu banyak bergerak dan menjaga keamanan, ternak yang akan dipotong kukunya perlu dijepit di bagian lehernya.

i.       Kaki yang akan dipotong kukunya diangkat dan digantung dengan tali.

j.      Pemotongan kuku dimulai dari pinggir atas terus ke ujung.

k.     Pemotongan dengan pahat, sebaiknya ternak berdiri di atas balok kayu agar pahat tidak menjadi tumpul karena kerasnya lantai.

C.  PEMOTONGAN TANDUK

Tujuan :  menghilangkan bahaya kecelakaan pada pemeliharaan dan juga ternak lain, serta untuk memudahkan penanganan ternak dalam pemeliharaan.

Perlakuan  : pemotongan tanduk dapat dilakukan dengan beberapa cara, tetapi yang akan dipaparkan adalah pemotongan tanduk pada anak sapi (ternak lain yang berumur 2 – 5 hari) dengan zat kimia.

a.     Pemotongan tanduk dilakukan pada ternak berumur 2 – 5 hari karena tanduk belum melekat pada tulang kepala.

b.    Sebelumnya dilakukan pemotongan rambut di sekeliling tunas tanduk.

c.     Pada bekas guntingan diberi vaselin agar zat kimia (soda kaustik) yang dioleskan pada tunas tanduk tidak menyebar ke tempat lain.

d.    Soda kaustik dioleskan pada tunas tanduk dengan spatula kayu, karena dengan menggunakan jari dapat terbakar.

e.    Soda kaustik akan membakar tunas tanduk dan dalam beberapa hari akan terjadi kerak tanduk.  Sepuluh hari kemudian, kerak tanduk tersebut akan terlepas.

D.  PEMOTONGAN PARUH

Tujuan :  untuk mencegah akibat yang merugikan, terutama bila timbul kanibalisme.  Kanibalisme adalah tingkah laku ayam untuk mematuki temannya yang biasanya jika luka akan dikeroyok sampai parah dan dapat menimbulkan kematian.  Kanibalisme biasa timbul jika ada kesalahan pengelolaan, seperti kurangnya tempat makan/minum, tempat terlalu sempit, ventilasi jelek, atau bawaan (ayam kampung).

Perlakuan :

Pemotongan paruh hanya dapat dilakukan dengan alat (debeaker/ pemotong paruh) atau alat “hot blade machine” (mesin pisau panas).  Pemotongan dengan alat lain biasanya tidak dapat menjamin hasilnya dan sering mengakibatkan perdarahan atau tumbuh kembali yang akan mengakibatkan rasa sakit pada ayam yang bersangkutan.  Paruh yang dipotong adalah bagian atas sebanyak 2/3 bagian diukur dari lubang hidung hingga ujung paruh.  Paruh bagian bawah dipotong lebih sedikit, sehingga yang tinggal 2 mm lebih panjang dari bagian atas.  Bagian yang dipotong digesekkan pada pisau yang dipanaskan dengan arus listrik sehingga lukanya segera tertutup.

E.  KASTRASI (PENGEBIRIAN)

Tujuan :  untuk menghindarkan adanya keturunan dengan kualitas yang tidak dikehendaki/jelek, memperbaiki kualitas daging, dan dapat membuat ternak lebih jinak.

Perlakuan :

a.     Cara Tertutup

Pengebirian yang dilakukan dengan cara mematikan atau meng-halangi keluarnya spermatozoa atau ovum.  Cara tertutup ini dapat dilakukan melalui cara mekanis atau dengan memberikan zat kimia (hormon) tertentu.

b.    Cara Terbuka

Pengebirian yang dilakukan dengan cara operasi, dengan mengeluarkan testes atau ovarium atau dengan memotong atau mengikat salurannya.

F.  PENANGANAN KELAHIRAN TERNAK

Tujuan :  untuk mempersiapkan kelahiran, pemberian bantuan kelahiran, dan perawatan kesehatannya.

Perlakuan :

a.     Persiapan Kelahiran

-      Bersihkan kandang.

-      Sediakan alas yang kering dan bersih untuk menyerap cairan yang keluar selama kelahiran.

-      Persiapkan jodium tinctur untuk dioleskan pada bekas potongan tali pusat.

b.    Pemberian Bantuan Kelahiran

Pemberian bantuan terutama ditujukan pada ternak yang mengalami kesulitan melahirkan.  Pada proses kelahiran normal tindakan bantuan yang diperlukan sangat kecil (memotong tali pusat, mengolesi bekas potongan dengan jodium, dan membersihkan lendir).

Kesulitan kelahiran dapat terjadi apabila :

-      anak terletak pada posisi yang tidak normal.

-      induk mempunyai panggul yang sempit.

-      anak yang dikandung terlalu besar.

-      anak mati sebelum dilahirkan.

-      kondisi induk tidak sehat (lemah).

Kesulitan melahirkan ditandai dengan tidak keluarnya anak selama ± 1 jam setelah kantong ketuban pecah.  Oleh karena itu pada induk yang bunting tua perlu perawatan yang lebih baik dengan memberikan pakan yang cukup, cukup gerak, dan ketenangan suasana.

Langkah-langkah untuk membantu kelahiran :

-      Bersihkan alat kelamin dan sekitarnya dengan sabun.

-      Cucilah tangan dan balur dengan sabuk yang lunak.

-      Secara pelan masukkan tangan dengan posisi menguncup ke dalam alat kelamin.

-      Rasakan dan pastikan bagian-bagian tubuh anak dalam saluran peranakan, seperti kaki, kepala, dan bagian lainnya berasal dari satu atau dua anak.

-      Untuk kelahiran dengan posisi depan, harus teraba kaki dan kepala.  Bila salah satu kakinya belum ditemukan, masukkan tangan lebih dalam untuk mencapai kaki satunya.  Tariklah dengan hati-hati ke posisi yang benar dan tarik dengan lembut untuk mengeluarkan anaknya.

-      Untuk kelahiran dengan posisi belakang, kedua kaki belakang harus sejajar.  Untuk meyakinkan bahwa kaki tersebut adalah kaki belakang, maka posisi jari kaki mengarah ke bawah dan punggung mengarah ke atas.  Bila jari kaki mengarah ke atas, maka kaki tersebut adalah kaki depan.

-      Apabila sebagian tubuh anak tidak terletak pada posisi yang normal, maka betulkan ke posisi yang benar, kemudian tarik dengan lembut untuk menge-luarkan anaknya.

-      Untuk membantu pernafasan, maka bersihkan lendir yang terdapat di dalam hidung dengan cara menggelitik bagian dalam hidung dengan jerami atau pegang kaki belakang kemudian ayunkan dengan hati-hati.

-      Biarkan induk menjilati anaknya hingga kering.

c.     Perawatan Anak yang Baru Lahir

Setelah anak lahir, maka akan segera menyusu kepada induknya.  Apabila terjadi kesulitan maka perlu dibantu untuk segera menyusu.  Anak yang tidak menyusu setelah 12 jam karena induknya mati, harus diberi susu jolong buatan pada hari ke-1 dan ke-2, sebagai pengganti susu jolong induk.

Pembuatan susu jolong buatan :

Campurkan secara merata 0,25 – 0,50 liter susu sapi atau susu bubuk dengan satu sendok teh minyak ikan, 1 butir telur ayam, dan ½ sendok makan gula pasir.  Berikan secara langsung (dicekok) 3 – 4 kali/hari.  Apabila selama 2 hari anak tidak berak, berikan secara langsung 1 sendok teh minyak jarak.

 

G.  PEMERIKSAAN KEBUNTINGAN

Tujuan :  untuk melakukan perawatan yang benar dan secara langsung maupun tidak langsung akan berhubungan dengan perencanaan produksi atau reproduksinya.

Perlakuan :

Sebelum dilakukan pemeriksaan kebuntingan, terlebih dahulu dapat diamati tanda-tanda kebuntingan, yaitu :

-  Tidak terlihat tanda-tanda birahi pada siklus birahi berikutnya.

-  Membesarnya perut sebelah kanan.

-  Ambing atau buah susu menurun.

-  Sering menggesekkan badan ke dinding kandang.

-  Tampak lebih tenang.

Pemeriksaan kebuntingan secara dini dapat dilakukan 12 – 24 hari setelah inseminasi/perkawinan dengan memeriksa kandungan hormon progesteron dalam air kencing.  Pemeriksaan kebuntingan secara manual dapat dilakukan pada umur 40 – 60 hari setelah inseminasi/perkawinan dengan palpasi rektal atau menggunakan alat pemeriksaan kebuntingan.

Pemeriksaan kebuntingan dengan palpasi rektal :

a.     Lakukan tindakan pengamanan dengan mengikat sapi yang akan diperiksa.

b.    Kuku pemeriksa harus dipotong pendek.  Tangan dilicinkan dengan sabun (jangan memakai sabun cuci).

c.     Ekor dan vulva diperiksa terhadap lendir (tanda birahi) atau nanah (tanda infeksi), bila tidak ada kedua tanda tersebut, pekerjaan dapat dilanjutkan.

d.    Masukkan tangan ke dalam dubur secara perlahan dan dicari :

1)    Leher rahim, dengan tanda-tanda :

-  berbentuk silinder.

-  sedikit keras.

-  biasanya berada di tengah-tengah.

-  di dalam ruang panggul, kalau tidak bunting atau bunting muda.

-  leher rahim tertarik ke depan, kalau bunting tua.

2)    Rahim, tangan masukkan ke depan leher rahim.

3)    Tanda-tanda kebuntingan untuk sapi bunting 70 hari :

-  tanduk rahim 2 kali lebih besar dari biasanya.

-  rahim lembek.

-  tanduk rahim penuh dengan cairan.

-  dua membran janin dapat teraba.

 

4)    Tanda-tanda kebuntingan untuk sapi bunting 90 hari :

-  rahim berada di depan dekat panggul, tetapi ada kemungkinan tertarik kembali ke dalam panggul.

-  ukuran rahim sama dengan ukuran bola sepak.

-  rahim penuh dengan cairan.

-  pembuluh darah rahim sedikit lebih besar di bagian yang bunting.

5)    Tanda-tanda kebuntingan untuk sapi bunting 120 hari :

-  posisi rahim sudah mulai turun ke dasar rongga perut.  Biasanya seluruh rahim masih teraba, tapi tidak mungkin tertarik kembali de dalam ruang panggul.

-  rahim penuh dengan cairan.

-  cotyledous teraba.

-  pembuluh darah rahim lebih besar di bagian yang bunting dan terdapat pulsus fremitus”.

6)    Tanda-tanda kebuntingan untuk sapi bunting 180 hari :

-  rahim berada di perut, leher rahim tertarik ke depan.

-  Cotyledous teraba.

-  pembuluh darah lebih besar di bagian yang bunting dan terdapat pulsus fremitus”.

7)    Tanda-tanda kebuntingan untuk sapi bunting 240 hari :

-  rahim berada di perut, leher rahim tertarik ke depan.

-  janin dapat diraba, bagian rahim di dalam panggul.

-  Cotyledous teraba.

8)     Tandak-tanda sapi tidak bunting :

-  tidak ada cairan di dalam rahim.

-  dinding kedua tanduk rahim tebal dan teraba seperti daging.

-  kedua tanduk rahim melengkung dan simetris.

9)    Kesalahan pada pemeriksaan kebuntingan sapi :

-  Satu tanda kebuntingan tidak dapat dipergunakan sebagai diagnosa kebuntingan.

-  Kandung kencing dapat dikira sebagai rahim yang bunting.  Kandung kencing tidak melekat pada leher rahim dan tidak mempunyai tanduk.

-  Rumen dapat dikira sebagai rahim yang bunting.  Rumen tidak melekat pada leher rahim, rumen tidak penuh dengan cairan, bila ditekan dinding rumen lambat untuk kembali ke posisi semula.

-  Rahim yang terinfeksi atau belum mengecil setelah beranak dapat dikira rahim yang bunting dan rahim tidak penuh dengan cairan.

H.  PEMERAHAN SUSU

Tujuan :  untuk memperoleh air susu secara rutin dengan jumlah dan mutu yang baik dengan tetap memperhatikan kesehatan induk dan anaknya.

Perlakuan :

Air susu dihasilkan oleh ternak yang telah melahirkan anak, tetapi air susu yang dihasilkan oleh induk pada hari-hari pertama sejak melahirkan (10 – 15 harus) harus diberikan kepada anaknya, karena air susu (jolong/kolustrum) tersebut mengandung zat-zat yang sangat diperlukan untuk kesehatan anak yang dilahirkan.  Pemerahan hendaknya memperhatikan siklus reproduksi.  Terhadap ternak yang telah bunting tua (di atas 7 bulan) diperlukan perhatian khusus untuk menjaga kesehatan induk dan anak yang dikandung.  Perhatian utama adalah terhadap jumlah dan mutu pakan.

a.     Sebelum diperah deiberikan makanan konsentrat, agar tenang waktu diperah.  Jangan diberikan rumput atau hijauan lainnya sebelum dan selama diperah agar susu yang dihasilkan tidak berbau, bersih, dan berkualitas baik.

b.    Kandang harus bersih dari kotoran dan sisa-sisa makanan.

c.     Ternak yang akan diperah dibersihkan dan dicuci di bagian lipatan paha dan sekitar paha dengan sikat.

d.    Siapkan peralatan pemerahan (ember susu) yang telah dibersihkan dengan air sabun yang hangat-hangat kuku dan dibilas dengan air bersih serta dikeringkan (jangan mengeringkan dengan lap atau serbet).

e.    Ikatlah ekor pada salah satu kaki belakang agar tidak mengganggu pemerahan.

f.      Cucilah ambing dengan air panas (50 – 60 °C) dengan meng-gunakan lap yang bersih kemudian keringkan dengan handuk kering dan bersih.  Pencucian ambing akan lebih baik bila dicampur dengan chlor 150 – 200 mg/liter air.

g.    Tangan pemerah harus bersih (cuci dengan sabun) sewaktu memerah sebaiknya tidak perlu menggunakan vaselin atau minyak pelicin, karena akan mencampuri susu sehingga mudah rusak.

h.    Lakukan uji mastitis dengan menggunakan piring aluminium yang bagian dalam-nya dicat hitam.

-     Lakukan test pada setiap puting susu dengan menggunakan 3 jari (ibu jari, telunjuk, dan jari tengah).  Pada setiap puting 2 – 3 pancaran ke dalam piring aluminium tersebut.  Amati keadaan susu, misalnya ada kelainan (ada darah atau nanah) hal ini menunjukkan adanya kelainan atau peradangan.

-     Bila terdapat tanda-tanda kelainan susu pada salah satu puting, maka pemerahannya dipisahkan dengan puting-puting yang sehat.  Susu yang abnormal tersebut apabila kualitasnya tidak terlalu jelek dapat dimasak dan diberikan kepada anak ternak yang diperah.

Pemerahan :

a.     Tekan ibu jari dan telunjuk melingkari pangkal puting sehingga susu tidak kembali ke ambing.

b.    Tekan jari tengah pada puting untuk memancarkan susu keluar (pancaran pertama sebaiknya ditampung dalam piring aluminium hitam untuk test mastitis).

c.     Tekan jari manis pada puting dan perah dengan tekanan tetap jangan ditarik kuat ke bawah.

d.    Akhirnya tekan jari kelingking pada puting dan perahlah dengan seluruh jari tangan hingga susu keluar semua.

e.    Kemudian lepaskan tekanan tangan dari puting dengan membuka semua jari sehingga puting susu terisi kembali.  Ulangi cara pemerahan ini dengan meng-gunakan tangan yang lain.  Lanjutkan proses pemerahan tersebut beralih ke puting yang lain bila susu yang keluar sudah sangat sedikit.

f.      Tekan ambing ke atas dengan menggunakan tangan yang menggenggam puting, usahakan agar susu tidak kembali masuk ke dalam ambing.

g.    Agar sisa-sisa susu keluar, maka perah/tekan puting dengan ibu jari dan telunjuk.

h.    Lakukanlah pemerahan dengan hati-hati jangan terlalu ditarik.

i.       Susu hasil pemerahan harus segera dibawa keluar dari kandang agar tidak menyerap bau kotoran atau kandang.

I.  DIPPING

Tujuan :  untuk mencegah atau mengurangi ektoparasit pada tubuh ternak dengan cara memandikan ke dalam bak air yang telah diberi obat.

Perlakuan :

Sediakan kolam atau bak besar, dimana pada kolam tersebut telah diisi air dengan kedalaman tertentu (disesuaikan dengan tinggi ternak) dan dilarutkan obat dengan konsentrasi 0,06%.  Obat yang akan digunakan disesuikan dengan keperluannya, misalnya : asuntol, diazinon, atau neocidal.  Cara yang biasa dipakai adalah dengan memaksa ternak untuk melewatinya atau menceburkan ke dalam bak tersebut.

Ditulis dalam ILMU PETERNAKAN | Leave a Comment »

Jawaban Soal Rancob

Ditulis oleh ardhiansyahberau di/pada Juni 8, 2008

1.  a. Rancangan yang dipergunakan untuk percobaan tersebut adalah Rancangan Acak Kelompk (RAK), karena :

-  berdasarkan hasil percobaan terlihat bahwa data dibagi menjadi 3 kelompok.

-  percobaan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap produksi padi biasanya diadakan di lahan persawahan yang mempunyai kondisi cenderung untuk tidak homogen.

b. Analisa Sidik Ragam :

Sumber Keragaman

db

JK

KT

Fhitung

Ftabel

5%

1%

Kelompok

Perlakuan

Galat

2

5

15

0,091

24,451

0,031

0,046

4,890

0,003

14,81**

1584,89**

4,10

3,33

7,56

5,64

Total

17

24,574

 

 

 

 

c. Uji lanjut yang sesuai adalah Uji Beda Nyata Jujur (BNJ), karena data percobaan mempunyai nilai koefisien keragaman (KK) yang kecil yaitu sebesar 3,36% (KK < 10%).

2.  a. Rancangan yang dipergunakan untuk percobaan tersebut adalah Rancangan Acak Kelompk (RAK), karena :

-  berdasarkan hasil percobaan terlihat bahwa data dibagi menjadi 4 kelompok.

-  percobaan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap produksi blewah biasanya diadakan di lahan (kebun) yang mempunyai kondisi cenderung untuk tidak homogen.

b. Analisa Sidik Ragam :

Sumber Keragaman

db

JK

KT

Fhitung

Ftabel

5%

1%

Kelompok

Perlakuan

Galat

3

4

12

0,012

26,355

0,169

0,004

6,589

0,014

0,28ns .

468,69**

4,46

3,64

8,65

7,01

Total

19

26,545

 

 

 

 

c. Uji lanjut yang sesuai adalah Uji Beda Nyata Jujur (BNJ), karena data percobaan mempunyai nilai koefisien keragaman (KK) yang kecil yaitu sebesar 7,64% (KK < 10%).

 3.  Percobaan menggunakan Rancangan Petak Terbagi dimana Faktor B (varietas kedelai) sebagai petak utama dan Faktor A (pupuk kandang) sebagai anak petak, karena :

a. Derajat Kepentingan

Faktor A (pupuk kandang) lebih dipentingkan dalam pengamatan daripada Faktor B (varietas kedelai).

b. Derajat Kemudahan Penerapan

Faktor A (pupuk kandang) lebih mudah untuk diterapkan jika dibandingkan Faktor B (varietas tanaman).

4.  Prosedur pengacakan dari suatu percobaan faktorial dengan rancangan dasar Rancangan Acak Kelompok (RAK-Faktorial), yaitu :

a. Areal percobaan dibagi menjadi sebanyak k kelompok, kemudian masing-masing kelompok dibagi lagi menjadi sebanyak m x n kombinasi perlakuan.

b. Susun setiap kombinasi perlakuan yang akan dicobakan.

c. Setiap kombinasi perlakuan diberi nomor urut dari 1 hingga m x n.

d. Lakukan pengacakan perlakuan sebanyak m x n kali di setiap kelompok.

5.  Prosedur pengacakan dari suatu percobaan rancangan petak terbagi dengan rancangan dasar Rancangan Acak Kelompok (RAK-Petak Terbagi), yaitu :

a. Areal percobaan dibagi menjadi sebanyak k kelompok, kemudian masing-masing kelompok dibagi lagi menjadi sebanyak m x n kombinasi perlakuan.

 

Ditulis dalam STIPER Berau | yang berkaitan: | Comments Off