Hati-Hati dengan Pujian
Ditulis oleh ardhiansyahberau di/pada Juli 9, 2008
HATI-HATI DENGAN PUJIAN
“Orang yang diajak musyawarah (dimintai pendapat)
adalah yang bisa memegang amanat (dapat menyimpan rahasia)” (HR.
Athabrani)
Maha Sayang Allah yang telah menganugerahkan
hidayah pada hati-hati yang tunduk. Ruang hati pun terpenuhi cahaya iman.
Kilauannya bisa meleburkan kesombongan, kekikiran, dan kebencian. dari
hati inilah, rahasia hamba-hamba Allah terjaga dan terawat.
Kelengahan Terjadi Ketika Orang Banyak Bicara
Tak ada yang salah dari orang yang banyak bicara.
Selama yang dibicarakan berisi nasihat, dakwah, pengajaran; bicara justru jadi
ibadah. Tapi ketika bicara tak lagi punya isi : canda, obrolan, dan
lain-lain; bicara bisa menimbulkan fitnah. Dan salah satu fitnah itu,
terungkapnya rahasia. Bisa rahasia pribadi, keluarga, bahkan organisasi.
Rasulullah SAW pernah memberikan nasihat agar
seorang mukmin senantiasa bicara yang baik-baik. Atau jika tidak, diam.
Inilah sebuah pelajaran bahwa lidah bisa memunculkan kesalahan fatal.
Ketika orang tidak lagi mampu mengendalikan syahwat bicaranya, berbagai
kesalahan termasuk terungkapnya rahasia bisa muncul begitu saja. Ringan
dan tanpa beban.
Ketika orang tidak lagi sungkan bicara yang remeh
temeh, gosip; maka aib bisa terbaca pendengaran dengan mudah. Bisa aib
diri sendiri, isteri, orang tua, tetangga, dan lain-lain.
Biasanya, orang yang terlalu banyak bicara rentan
keceplosan. Begitu rentan membeberkan sebuah rahasia dan aib yang tabu
untuk diungkapkan. Dengan kata lain, banyak bicara nyaris bisa sama dengan
kurang amanah. Rasulullah SAW pernah memberi nasihat, “Barang siapa banyak
bicara maka banyak pula salahnya dan barang siapa banyak salah maka banyak pula
dosanya. Siapa yang banyak dosanya maka api neraka lebih utama baginya”.
(HR Athabrani).
Kelengahan Terjadi Ketika Orang Haus Pujian
Pujian dalam takaran tertentu memang punya
pengaruh baik. Dalam manajemen, ada istilah punish and reward : hukuman
dan penghargaan. Sebuah kesalahan akan cepat terkikis jika ada hukumannya.
Dan sebaliknya, sebuah prestasi akan terus meningkat jika ada penghargaan.
Dan penghargaan inilah sebagai bentuk lain dari pujian.
Masalah akan muncul jika pujian bukan lagi sebagai
sarana. Tetapi, tujuan. Pujian jenis ini bisa dibilang sebagai
penyakit. Apa pun bisa dikorbankan asal bisa dapat pujian. Biasanya,
orang yang rawan terhinggap penyakit ini mereka yang tergolong orang ‘besar’,
jenius, kaya, pejabat, dan sebagainya. Rasulullah mengatakan, “Berhati-hatilah
dengan pujian. Sesungguhnya itu adalah penyembelihan”. (HR. Al
Bukhari)
Orang yang Cinta Pujian Selalu Ingin Terlihat
Tampil Lebih
Termasuk saat menyampaikan gagasan, usulan, dan
sejenisnya. Karenaa terdorong ingin terlihat lebih, tidak heran jika
sesuatu yang sebenarnya tergolong rahasia bisa keluar begitu saja. Tanpa
beban. Di satu sisi, orang memang akan menilainya lebih. Dan pujian
pun mengalir. Tapi, ada kelemahan yang mudah terbaca : “Berikan saja
pujian, dia akan memberikan apa pun yang Anda minta”.
Salah satu yang membuat takluk Abu Sufyan saat
pengepungan Mekah adalah isi pengumuman Rasul. “Siapa yang masuk Masjidil
Haram, ia aman. Dan siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, ia juga aman”.
Dan itu salah satu bentuk pujian. Sedemikian dasyatnya pengaruh pujian,
Rasulullah SAW pernah mengatakan, “Taburkanlah pasir ke wajah orang-orang yang
suka memuji dan menyanjung-nyanjung”. (HR Muslim)
Kelengahan Terjadi Ketika Orang Dangkal
Pemahaman
Semakin paham seseorang, kian sangat berhati-hati
dalam melangkah. Sebaliknya, kian dangkal pemahaman seseorang, semakin
sembrono mengambil pilihan. Inilah standar penilaian yang bisa diambil.
Karena itu, jangan pernah titipkan rahasia ke orang yang dangkal pemahaman.
Karena rahasia akan sangat gampang bocor dan menyebar. Bahkan mungkin,
karena dangkalnya pemahaman, si pembocor sendiri tidak menyadari ketika ia
sedang melakukan pembocoran.
Sebuah ucapan Rasulullah SAW tentang orang bodoh
yang mengumbar aib sendiri mungkin patut disimak. Beliau SAW mengatakan, “Semua
umatku diampuni kecuali yang berbuat (keji) terang-terangan. Yaitu yang
melakukannya pada malam hari lalu ditutup-tutupi oleh Allah, tetapi esok paginya
dia membeberkan sendiri dengan berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku berbuat
begini … begini …’. Dia membuka tabir yang telah disekat oleh Allah
Azza wajalla”. (HR Mutafaq ‘alaih)
Kelengahan Terjadi Ketika Lingkungan Kurang
Menghargai Nilai Kebaikan
Ini mungkin agak lain. Karena terungkapnya
sebuah aib atau rahasia bukan sekedar dari dalam diri. Tapi, dari
lingkungan. Orang yang amanah dalam rahasia kadang bisa larut dengan
lingkungan yang menganggap sudah tidak punya rahasia. Mereka begitu mudah
membuka rahasia orang lain.
Bahkan dalam dunia politik, membongkah rahasia
orang lain bisa dianggap prestasi. Karena di situlah lawan bisa terjungkal.
Padahal, orang lain pun sedang menunggu kesempatan. Suatu saat, rahasia
bisa dibuka secara bersama-sama. Kalau saya jatuh, dia pun harus
terjungkal. Rasulullah SAW menasihati untuk tidak seperti itu.
Beliau SAW bersabda, “Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah. Jika
seorang membongkar keburukan yang diketahuinya pada dirimu janganlah kamu
membongkar keburukan yang kamu ketahui pada dirinya“. (HR Ahmad dan
Attirmidzi).
Memuji orang lain terkadang mudah dilakukan dengan
tanpa melihat dan menelaah terlebih dahulu apa yang diucapkannya. Sudahkah
kita meyakinkan diri kita untuk menerima kebenaran pujian itu.
Wallahu a’lam bish shawab ***
Sumber :
Buletin Jum’at AL – BINA, 01 Rajab 1429 H